Saya menuliskan tulisan ini untuk mengenang Bu Nuraini bu guru di SDN I Waluyojati, Pringsewu, Lampung. Sosok perempuan muda (tak terasa sudah dua puluh empat tahun yang lalu) yang mengajarkan saya membaca, menulis dan berhitung. Silahkan hitung sendiri kapan tahunnya :).
Masih ingat bahwa setahun sebelumnya, tante saya Farida sudah mendaftarkan saya ke SD, tapi guru-guru belum menerima saya. Alasannya saya masih terlalu kecil. Padahal, teman bermain saya sudah pada masuk SD.
Di kampungku, memang belum ada TK, kalau mau masuk TK harus ke kota Kecamatan Pringsewu. Disana, hanya ada dua TK yakni TK Xaverius dan TK Muhammadiyah. Harganya sangat mahal.
Dengan begitu, saya harus menunda keinginan sekolah selama setahun. Saat saya mendaftar kembali, untuk menghindari penolakan, tante saya yang mengantarkan, masih Tante Farida berinisiatif menuakan umur saya setahun. Maklumlah, tidak ada surat kenal lahir, dan cara mengetes umur dengan melingkarkan tangan diatas kepala. Kalau sudah bisa menyentuh kuping, dianggap sudah tujuh tahun.
Sempat terbersit dalam pikiran saya. Kalau tujuh tahun tangan bisa menyentuh kuping, kalau saya sudah dewasa tangan saya sudah bisa menyentuh apa ya?. Wah, berarti tangan saya akan memanjang terus. Hal ini sempat saya tanyakan ke ayah, beliau menjawab kalau sudah besar tangan kita tidak akan terus memanjang. Beliau tersenyum sambil memperlihatkan bahwa dirinya tangannya tidak memanjang. Syukurlah, pikirku tenang.
Hari pertama sekolah, saya sudah memakai seragam merah-putih dan bersepatu. Kawan-kawan saya masih banyak yang memakai baju lain. Saya punya seragam merah putih sebab ibu saya penjahit. Jadi beliau sudah menyiapkan seragam. Bangga saya masuk dengan seragam. Seolah sayalah yang paling syah di kelas dibanding dengan kawan-kawan.
Hari pertama sekolah, Bu Nur masuk ke kelas. Menuliskan angka-angka (kelak saya tahu beliau menuliskan tanggal) dipojok kiri papan tulis. Saya terkaget-kaget. Apa pula ini. Yang jelas saya mengeluarkan buku tulis dan potlot menuliskan apa yang bu guru tulis.
Hal yang saya ingat selanjutnya adalah pembagian buku-buku paket pelajaran membaca kepada setiap murid. Pelajaran pertama sekali adalah ucapan Selamat Pagi Bu Guru secara bersama saat guru memasuki kelas, baris-berbaris sebelum masuk kelas dan tangan di atas meja selama guru mengajar di depan kelas.
Selama kelas satu, hanya ada tiga guru yang mengajar saya di kelas satu Bu Ani sebagai guru kelas, Pak Bahrun yang mengajarkan Agama Islam dan Pak Yanto guru Olahraga. Satu kelas jumlah kami empat puluh lima orang. Banyak sekali. Program KB belum berhasil waktu itu.
Setelah besar dan banyak mengunjungi tempat-tempat di tanah air. Saya menyadari bahwa sudah lebih dari dua dekade pengalaman saya pertama masuk SD, ternyata ini keadaan masih banyak yang sama. Bahkan ada yang lebih buruk.
Salam hormat untuk para guruku.
by:iwan nurdin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar