Senin, 31 Mei 2010

Saya menuliskan tulisan ini untuk mengenang Bu Nuraini bu guru di SDN I Waluyojati, Pringsewu, Lampung. Sosok perempuan muda (tak terasa sudah dua puluh empat tahun yang lalu) yang mengajarkan saya membaca, menulis dan berhitung. Silahkan hitung sendiri kapan tahunnya :).

Masih ingat bahwa setahun sebelumnya, tante saya Farida sudah mendaftarkan saya ke SD, tapi guru-guru belum menerima saya. Alasannya saya masih terlalu kecil. Padahal, teman bermain saya sudah pada masuk SD.

Di kampungku, memang belum ada TK, kalau mau masuk TK harus ke kota Kecamatan Pringsewu. Disana, hanya ada dua TK yakni TK Xaverius dan TK Muhammadiyah. Harganya sangat mahal.

Dengan begitu, saya harus menunda keinginan sekolah selama setahun. Saat saya mendaftar kembali, untuk menghindari penolakan, tante saya yang mengantarkan, masih Tante Farida berinisiatif menuakan umur saya setahun. Maklumlah, tidak ada surat kenal lahir, dan cara mengetes umur dengan melingkarkan tangan diatas kepala. Kalau sudah bisa menyentuh kuping, dianggap sudah tujuh tahun.

Sempat terbersit dalam pikiran saya. Kalau tujuh tahun tangan bisa menyentuh kuping, kalau saya sudah dewasa tangan saya sudah bisa menyentuh apa ya?. Wah, berarti tangan saya akan memanjang terus. Hal ini sempat saya tanyakan ke ayah, beliau menjawab kalau sudah besar tangan kita tidak akan terus memanjang. Beliau tersenyum sambil memperlihatkan bahwa dirinya tangannya tidak memanjang. Syukurlah, pikirku tenang.

Hari pertama sekolah, saya sudah memakai seragam merah-putih dan bersepatu. Kawan-kawan saya masih banyak yang memakai baju lain. Saya punya seragam merah putih sebab ibu saya penjahit. Jadi beliau sudah menyiapkan seragam. Bangga saya masuk dengan seragam. Seolah sayalah yang paling syah di kelas dibanding dengan kawan-kawan.

Hari pertama sekolah, Bu Nur masuk ke kelas. Menuliskan angka-angka (kelak saya tahu beliau menuliskan tanggal) dipojok kiri papan tulis. Saya terkaget-kaget. Apa pula ini. Yang jelas saya mengeluarkan buku tulis dan potlot menuliskan apa yang bu guru tulis.

Hal yang saya ingat selanjutnya adalah pembagian buku-buku paket pelajaran membaca kepada setiap murid. Pelajaran pertama sekali adalah ucapan Selamat Pagi Bu Guru secara bersama saat guru memasuki kelas, baris-berbaris sebelum masuk kelas dan tangan di atas meja selama guru mengajar di depan kelas.

Selama kelas satu, hanya ada tiga guru yang mengajar saya di kelas satu Bu Ani sebagai guru kelas, Pak Bahrun yang mengajarkan Agama Islam dan Pak Yanto guru Olahraga. Satu kelas jumlah kami empat puluh lima orang. Banyak sekali. Program KB belum berhasil waktu itu.

Setelah besar dan banyak mengunjungi tempat-tempat di tanah air. Saya menyadari bahwa sudah lebih dari dua dekade pengalaman saya pertama masuk SD, ternyata ini keadaan masih banyak yang sama. Bahkan ada yang lebih buruk.

Salam hormat untuk para guruku.

by:iwan nurdin

Hari Pertama Masuk Sekolah
Pengalaman pertama menjalani peran sebagai murid memberikan kesan mendalam tak terlupakan. Sistem, lingkungan, metode, dan perangkat yang semuanya baru, memaksa untuk senantiasa beradaptasi cepat. Pada kesempatan ini, ijinkan aku membagikannya padamu kawan.
Sejak awal, selama masa orientasi, sudah ditegaskan bahwa kedisiplinan harus dijunjung tinggi. Tidak ada toleransi keterlambatan pada setiap sesi perkuliahan. Ketika dentang jam sudah menunjukkan waktu perkuliahan dimulai-sesuai jadwal-, maka yang sudah berada lebih dulu di dalam ruang kelas, berhak mengunci pintu dari dalam. Artinya, siapapun-mahasiswa atau dosen-yang datang setelahnya, tidak berhak untuk masuk mengikuti sesi kuliah saat itu.
Hal lainnya yang kurasakan berbeda adalah penjadwalan kuliah. Kalau dulu ketika masa undergraduate jadwal untuk satu mata kuliah dipecah menjadi beberapa hari dalam satu minggu. Kini, satu mata kuliah akan dijalankan pada satu hari, yang dibagi menjadi beberapa sesi. Semisal mata kuliah bernilai 3 SKS, maka satu hari dibagi menjadi 3 sesi. Sedangkan untuk mata kuliah bernilai 2 SKS, satu hari dibagi menjadi 2 sesi. Sedangkan 1 sesi berdurasi selama 1,5 jam, dan ada jeda antar sesi yang bisa digunakan untuk rehat.
Tidakkah ada kejenuhan jika satu mata kuliah dirapel dalam satu hari? Inilah salah satu perbedaan yang kuanggap sebagai satu kelebihan. Yaitu penggunaan case study untuk menyampaikan materi. Jadi jika satu mata kuliah dibagi menjadi 3 sesi dalam 1 hari, maka pembagiannya akan seperti ini:
• sesi pertama: dosen masuk kelas menjelaskan materi
• sesi kedua: diskusi kelompok-yang disebut dengan sindikat- di ruangan masing-masing. 1 sindikat mendapat 1 ruangan .
• sesi ketiga: presentasi hasil diskusi sindikat dan diskusi kelas.
Awalnya,metode seperti ini diterapkan di fakultas hukum Harvard University untuk mensimulasikan kasus peradilan.

Pertemuan pertama tiap mata kuliah, mahasiswa akan diberi satu map besar berisi lebih dari 10 kasus nyata dalam dunia bisnis,berbahasa Inggris, yang langsung dibeli secara original dari Harvard Business School. Tapi apalah arti sebuah merk. Toh, setahuku belum ada satu CEO perusahaan besar dunia yang lulusan Harvard Business School. Kalau yang DO sih ada. ^_^.
Satu case study minimal terdiri dari 10 halaman A4. Dan harus dikuasai setiap harinya, karena selalu ada presentasi dan diskusi di tiap kali pertemuan. Tidak salah jika partisipasi mendapat peringkat tertinggi dalam hal prosentase nilai total. Lebih tinggi dibandingkan nilai UTS, UAS, dan laporan tertulis. Ah,inilah hari-hariku ke depan.
Dengan penggunaan studi kasus yang real, diharapkan pemahaman mahasiswa akan lebih mudah dibentuk, dibandingkan dengan sekedar membaca teori dari buku-buku yang saking tebalnya bisa dijadikan bantal. Itulah bagian dari masa lalu.
Maka kupikir, ada baiknya metode ini bisa diterapkan di program studi lain, bahkan untuk level undergraduate. Meskipun, sebaik-baik tempat mencari ilmu adalah dengan langsung menceburkan diri, setidaknya pendekatan seperti ini bisa lebih mendekatkan gambaran tentang bagaimana tercebur dengan baik dan benar. Harapannya, sistem pendidikan di Indonesia-secara umum- bisa membaik.

By:google